Partai Golkar (ilustrasi)
"Kita tidak terlalu sulit sendiri mengatakan karena di dalam Golkar tidak solid. Maka celah ini rentan dan gampang dibaca kompetitor.
Seperti Demokrat yang kemarin dihabisi lawan politiknya dan
memanfaatkan isu ini. Partai lain pun ikut melakukan hal yang sama,’’
katanya ketika dihubungi, Ahad (8/6).
Kasus korupsi yang tekait dengan Partai Golkar mulai mengemuka bersamaan dengan pelaksanaan rapat pimpinan nasional (rapimnas). Yaitu, forum tertinggi setelah musyawarah nasional yang digelar dengan agenda tunggal, menetapkan Ical sebagai capres.
Pada saat bersamaan, politisi Golkar di Komisi VIII DPR, Zulkarnaen Djabar ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tak lama berselang, giliran bendahara umum Setya Novanto, wakil ketua umum Agung Laksono, dan anggota Komisi X DPR, Kahar Muzakir yang dipanggil KPK. Mereka diperiksa terkait dengan kasus pembangunan venue Pekan Olahraga Nasional (PON) di Riau.
Menurut Arie, politik saling serang dan balas dendam itu akan semakin tajam seiring dengan semakin dekatnya pemilu 2014. Apalagi ketika ada capres yang mulai menguat. Ini lantaran, partai politik di Indonesia menerapkan pola yang salah.
Yaitu, tidak diisi dengan perdebatan ideologi
dan nilai. Melainkan malah menggunakan sentimen personal dan saling
serang yang bersifat pragmatis. Yaitu bertujuan semata untuk
pemenangan.
Ia melihat, itu tercermin dari pola persaingan yang saling sandera.
Alih-alih mengeksplorasi kelebihan partai masing-masing. Namun malah
menggunakan kelemahan partai lain untuk meningkatkan citra partainya di
mata masyarakat.
http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/12/07/08/m6ucag-pengamat-giliran-golkar-tersandera-korupsi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar