Jumat, 23 November 2012

Sang Surya Tiada Henti Menyinari

Kompas, Jumat,23 November 2012 MILAD MUHAMMADIYAH KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Simpatisan dan anggota Muhammadiyah memeriahkan peringatan satu abad Muhammadiyah di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (18/11). Acara dibuka Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan dihadiri wakil presiden ke-10 RI, Jusuf Kalla, Ketua DPD Irman Gusman, dan Gubernur DKI Joko Widodo. Ilham Khoiri ”Kami tetap konsisten dan istikamah pada jati diri Muhammadiyah...,” M Din Syamsuddin, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menyuarakan tekad organisasi yang dipimpinnya dengan suara lantang. Pidato itu sontak disambut teriakan sekitar 100.000 anggota Muhammadiyah yang memenuhi Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) di Senayan, Jakarta, Minggu (18/11) pagi. Hujan deras yang tiba-tiba turun di tengah acara tak menyurutkan semangat hadirin. Mereka adalah pengurus, mahasiswa, siswa, atau pegiat Muhammadiyah dari sejumlah daerah dan Ibu Kota yang tiba sejak subuh. Perayaan serupa juga digelar di sejumlah kota dengan berbagai variasi acara, seperti di Makassar, Malang, dan Yogyakarta. Kemeriahan itu sepadan hari istimewa yang sedang dirayakan: milad (kelahiran) Muhammadiyah 100 tahun silam. Muhammadiyah didirikan di Yogyakarta pada 18 November 1912. Kembali ke pidato Din, sebenarnya apa jati diri Muhammadiyah? Merujuk pada gagasan dan gerakan Kiai Haji Ahmad Dahlan, sang pendiri, organisasi itu dibangun untuk melakukan tajdid (pembaruan) dalam berbagai aspek kehidupan. Melawan kejumudan pemikiran, Muhammadiyah mengobarkan semangat ijtihad dengan rujukan Al Quran dan Hadis, seraya meninggalkan takhayul, bidah, dan khurafat. Keterbelakangan peradaban diatasi dengan membangun pendidikan modern. Kemiskinan diatasi dengan menggalakkan usaha sosial-ekonomi. Rumah sakit dan klinik dibangun demi menyehatkan masyarakat. Muhammadiyah terus tumbuh menjadi organisasi Islam modern dengan jaringan kuat dan luas. Organisasi itu mampu melewati saat-saat sulit pada masa penjajahan, bahkan berperan penting dalam kemerdekaan. Bisa bertahan hingga sekarang tentu prestasi luar biasa. Namun, setelah zaman berubah, Muhammadiyah dituntut untuk lebih kreatif dalam mengembangkan visi pencerahannya. Kini bangsa Indonesia bergulat dengan proses demokratisasi yang demikian terbuka, sementara globalisasi mendesakkan liberalisme pasar ke penjuru dunia. Saat bersamaan, muncul kelompok-kelompok keagamaan fundamentalis yang gemar melancarkan kekerasan dan aksi intoleran. Menurut Jusuf Kalla, wakil presiden ke-10 RI, yang hadir dalam acara itu, Muhammadiyah telah memberikan pengabdian luar biasa bagi bangsa dan diharapkan terus menebarkan kebaikan. Perayaan milad 100 tahun, kata KH Hasyim Muzadi, mantan Ketua Umum PBNU, menempatkan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam besar tertua di Indonesia. Apa yang diharapkan dari Muhammadiyah? Menurut dosen Sosiologi Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Arie Sujito, Muhammadiyah didesak untuk mendorong transformasi etika dan moralitas politik dalam demokrasi untuk kesejahteraan. Muhammadiyah perlu melakukan gerakan antikorupsi, pendidikan pluralisme, dan kampanye politik bersih. Hal itu penting untuk mencerahkan dominasi perilaku partai politik yang kian pragmatis, dangkal, dan hanya memikirkan kelompok. Krisis bangsa ini membutuhkan kerelaan ormas untuk bekerja keras agar cita-cita pemberdayaan bangsa tercapai. Peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Siti Zuhro, menilai, Muhammadiyah menghadapi godaan politik besar. Ini terkadang menyeret organisasi itu masuk ke dalam ranah politik praktis yang justru tidak menguntungkan. Padahal, seharusnya lembaga ini netral secara politik dan menjadi kekuatan sosial keagamaan dan penjaga moral. Amar makruf nahi mungkar (perintah untuk mengerjakan perbuatan yang baik dan larangan mengerjakan perbuatan yang keji) perlu terus didengungkan di tengah-tengah kemerosotan moral dan etika. ”Muhammadiyah memiliki tugas mulia untuk ikut mencerdaskan bangsa dan menyejahterakan masyarakat,” katanya. Di atas semua itu, pengamat politik dan keagamaan Fachry Ali mengingatkan, agar Muhammadiyah terus menyegarkan visi pembaruan pemikiran keagamaan. Sejumlah tokoh pembaru Islam justru muncul dari luar, seperti Harun Nasution dengan gagasan rasionalisme Islam, KH Abdurrahman Wahid dengan ”pribumisasi” Islam, atau Nurcholis Madjid dengan pemikiran keislaman dan keindonesiaan. Secara pribadi, seorang kader Muhammadiyah, Moeslim Abdurrahman, telah mengembangkan teologi sosial al-maun, semacam konsep pemikiran praksis sosial keagamaan untuk memberdayakan kaum pinggiran. Namun, pembaruan belum dilakukan secara kelembagaan. Bagaimana Muhammadiyah menjawab tantangan demikian? Din Syamsuddin menyadari, perubahan zaman melahirkan geopolitik, sosial, ekonomi, dan budaya yang berbeda. Muhammadiyah berusaha menghadapi semua itu dengan penyesuaian diri. Ke dalam, Muhammadiyah bertekad untuk menguatkan kembali etos organisasi. ”Ke luar, Muhammadiyah harus mengambangkan diri demi memberikan sumbangan pemikiran dan gerakan untuk bangsa Indonesia, umat Islam, dan dunia. Kami harus menjadi rahmatan lil’alamin (rahmat bagi semesta),” katanya. Hujan terus mengguyur GBK di Senayan. Tiba-tiba, listrik padam sehingga acara terpaksa mandek di tengah jalan. Namun, ratusan ribu anggota Muhammadiyah tetap setia menunggu. Sejumlah anak muda berlari-lari ke tengah lapangan sambil membentangkan spanduk besar bertuliskan tema milad seabad, ”Sang Surya Tiada Henti Menyinari" http://cetak.kompas.com/read/2012/11/19/03190996/sang.surya.tiada.henti.menyinari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar